mboh

Dakriosistitis

Dakriosistitis adalah istilah medis untuk infeksi kantung air mata. [1] Kejadian dakriosistitis 80% lebih sering dialami oleh wanita daripada pria, dan paling sering usia di atas 40 tahun. Pada wanita karir bisa terjadi, meski jarang dijumpai. Pada bayi baru lahir, kasusnya kurang dari 1%.

Menariknya, dakriosistitis lebih sering dijumpai pada orang berkepala pendek (brachycephaly) daripada yang berkepala panjang (dolichocephaly) atau normal (mesocephaly). Hal ini dikarenakan kepala pendek memiliki saluran air mata yang lebih panjang dan rongga air mata yang lebih sempit.

Penyebab

Dakriosistitis disebabkan oleh multifaktor. Bakteri aerob (dapat hidup karena oksigen) yang berhasil diisolasi pada penderita dewasa, misalnya: Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Streptococcus sp, Pseudomonas sp, dan Pneumococcus sp. Adapun bakteri anaerob (bertahan hidup tanpa oksigen) yang paling sering dijumpai adalah Peptostreptococcus spp., Propionibacterium spp., Prevotella spp., dan Fusobacterium spp. Pada anak-anak, dakriosistitis akut paling sering disebabkan oleh Haemophylus influenzae.

Penyebab lainnya, yaitu penyakit-kelainan hidung, seperti: sinusitis, rinitis, tumor hidung, hidung bengkok, dsb. Faktor lain berpotensi pemicu, misal: bekerja berlebihan di tempat tertutup, kurang tidur, terus-menerus menangis, cedera atau luka, dsb.

Yang khas pada dakriosistitis adalah epifora, yaitu banjir air mata karena pengeluaran kelenjar air mata berlebihan atau tersumbatnya saluran air mata. Menurut statistik, tersumbatnya saluran airmata dialami 6% saat kelahiran. Kelainan bawaan ini sembuh spontan. Sekitar 75% menghilang di usia 3 bulan, dan 95% di usia 1 tahun. Gangguan seperti keratokonjungtivitis sika kronis (permukaan kornea-konjungtiva mata kering menahun) juga pemicu munculnya epifora, bila tidak ada kelainan pelupuk mata atau kelenjar air mata.

Gejala dan tanda lain, misalnya: merasa seperti berpasir, ada selaput tipis di mata, gatal di sudut mata, nyeri, kemerahan, dan bengkak (dapat teraba lunak) di kantung air mata, kotoran mata. Nyeri terutama dirasakan di kantung air mata dan dapat menyebar ke dahi, bagian dalam bola mata, dan bagian depan gigi.

Beberapa penderita terkadang merasakan demam, amat lelah-lesu. Jika menahun, penderita mengeluh mudah menangis atau mudah berlinang air mata, terutama ketika angin menerpa.

Pada bayi-anak dengan dakriosistitis kongenital (bawaan), maka ibunya akan memberitahu dokter bahwa satu sisi mata memerah, disertai bengkak di pangkal hidung, terkadang keluar nanah.

Bila menyebar, dakriosistitis menyebabkan terjadinya preseptal cellulitis, yaitu radang jaringan kulit kelopak mata. Ini sering dijumpai pada anak. Namun tak perlu khawatir, sebab epifora dan dakriosistitis jarang dilaporkan berlanjut menjadi kanker rongga hidung (sinonasal carcinoma).

Pemeriksaan Penunjang

Untuk memastikan diagnosis, dokter melakukan serangkaian pemeriksaan, seperti: dye dissapearence test, fluorescein clearance test, dan John’s dye test. Ketiganya menggunakan zat warna fluorescein 2%. Untuk memeriksa letak kelainan, dokter akan melakukan tes probing dan tes anel.

Pemeriksaan laboratorium hitung darah lengkap dilakukan untuk mengetahui ada-tidaknya peningkatan sel darah putih (leukositosis). Hasil ini untuk menyingkirkan dugaan leukemia (kanker darah-sumsum tulang) sebagai penyebab infeksi kantung air mata.

Pemeriksaan kultur perlu dilakukan, untuk memilih terapi antibiotik yang tepat. Bila tidak tepat, akan menimbulkan resistensi (kebal obat). Sedangkan CT scan, dacryocystography, dan dacryoscintigraphy dilakukan sesuai indikasi dan bila tersedia fasilitas.

Riset dengan lectin cytochemistry membuktikan bahwa terjadi perubahan komposisi glycoconjugate pada lapisan epitel kantung air mata.

Solusi

Dilatasi (pelebaran) dan irigasi (pembilasan) merupakan strategi paling umum. Mudah dilakukan dan cepat mengatasi sumbatan saluran air mata. Bukan solusi permanen, sehingga perlu dilakukan beberapa kali setiap tahun. Jika gangguan permukaan mata sebagai penyebab epifora kronis, maka dilakukan dengan mengisi ulang volume air mata sebagai dasar dan meningkatkan kualitas selaput air mata (tear film). Gunakanlah preparat air mata buatan, terapi oklusi lakrimal/pungtal, efek moist chamber, atau kombinasinya.

Terapi dakriosistitis berbeda pada anak dan dewasa. Pada anak, dilakukan masase (pijat) kantung air mata ke pangkal hidung. Bila perlu dapat diberikan antibiotik (amoksisilin/klavulanat, sefaklor); tetes mata (moksifloksasin 0,5% atau azitromisin 1%). Pilihan lain, diberi sulfonamid 4-5x/hari, ampisilin-sulbaktam, atau ceftazidime plus vancomycin.

Pada dewasa, daerah yang terkena dikompres hangat sesering mungkin. Pilihan antibiotiknya: amoksisilin/sefalosporin. Nyeri-radang diatasi dengan analgesik (asetaminofen/ibuprofen). Bila dirawat di RS, dokter mata memberikan antibiotik iv (cefazoline tiap 8 jam). Pernanahan (abses) diatasi dengan insisi dan drainage.

Pada kasus akut yang disertai penyulit (seperti: selulitis orbita), maka perlu diberikan nafcillin atau cloxacillin, terutama bila bakteri Staphylococcus telah kebal terhadap penicillin.

Bila bandel dan menahun, maka dilakukan operasi yang disebut dacryocystorhinostomy, sebagai penghubung kantung air mata dengan selaput lendir hidung, dan untuk memperbaiki pengaliran (drainage) air mata. Dapat dilakukan dacryocystography sebelum operasi. Berkonsultasilah ke dokter untuk mendapat solusi yang tepat.

Dakriosistitis mudah dicegah. Jagalah kebersihan kelopak mata, hati-hatilah saat menggosok kelopak mata, jagalah kebersihan rongga hidung dengan semprotan larutan yang mengandung garam.


    Referensi

  1. ^ Dakriosistitis penyakit unik yang bikin banjir air mata
Plugin referensi dapat didownload disini

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>