Kotak Hitam

Kotak hitam atau black box adalah sekumpulan perangkat yang digunakan dalam bidang transportasi – umumnya merujuk kepada perekam data penerbangan (flight data recorder; FDR) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder; CVR) dalam pesawat terbang.

Fungsi dari kotak hitam sendiri adalah untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan. Walaupun dinamakan kotak hitam tetapi sesungguhnya kotak tersebut tidak berwarna hitam melainkan berwarna jingga (oranye). Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pencarian jika pesawat itu mengalami kecelakaan.

Penempatan kotak hitam ini dilakukan sedemikian rupa sehingga mudah ditemukan. Umumnya terdapat dua unit kotak hitam yang diletakkan pada bagian depan pesawat dan bagian ekor pesawat, yang diyakini merupakan bagian yang utuh ditemukan. [1]

Di Indonesia, rumitnya pencarian kotak hitam di bawah laut pernah dilakukan maskapai Adam Air saat pesawatnya jatuh di perairan Majene, Sulawesi Selatan, pada 2007 lalu.

Bedanya dengan MAS MH370, puing-puing pesawat Adam Air KI 574 yang jatuh pada 1 Januari 2007 ditemukan sekitar sepekan lebih setelahnya. Temuan pertama berupa sayap pesawat, kemudian pelampung dan serpihannya.

Saat itu ada beberapa kapal yang diandalkan di antaranya KRI Fatahillah dan USNS Mary Sears, kapal riset milik AS. KRI Fatahillah yang dilengkapi sonar mendeteksi benda logam di perairan Mamuju, Sulbar, di kedalaman 1.500 meter pada 8 Januari 2007 lalu. USNS Mary Sears juga mendeteksi logam besar yang diduga bangkai Adam Air di perairan Majene dengan kedalaman 1.800-2.000 di bawah permukaan laut pada 24 Januari 2007.

Saat itu dikaji mengangkat benda logam diduga badan pesawat Adam Air. Namun menurut Ketua KNKT saat itu Setio Rahardjo, dibutuhkan alat canggih dan biaya besar untuk mengangkatnya, minimal dibutuhkan dana 1,1 juta dolar AS atau setara Rp 9,9 miliar. Padahal saat itu untuk operasi SAR saja pemerintah mengeluarkan sekitar Rp 1,7 miliar - Rp 1,8 miliar per hari yang diambil dari APBN.

"Kita tergantung dengan negara lain, katakanlah AS. Itu biayanya untuk mendatangkan alatnya saja 1 juta dolar AS, belum lagi sewa per harinya 100 ribu dolar AS," kata Setio.

Setio mendapatkan gambaran biaya yang harus dikeluarkan pemerintah setelah berbicara dengan NTSB, KNKT-nya Amerika. Bila ada pengangkatan bawah laut harus ada alat crane dan ROV alias remote operator vehicle.

Ketika operasi SAR dihentikan, pencarian difokuskan pada black box yang berwarna oranye. Tidak mudah karena black box itu diduga berada di kedalaman laut Majene yang sekitar 2.000 meter, bandingkan dengan kedalaman Samudera Hindia lokasi M370 hilang yang mencapai 4 ribu meter.

Saat itu USNS Mary Sears sudah menemukan lokasi black box di dua titik yang jaraknya tidak berjauhan yang diumumkan pada 26 Januari 2007, 25 hari setelah Adam Air jatuh. Saat itu USNS Mary Sears menindaklanjuti KRI Ajak, KRI Nala, KRI Fatahillah dan KRI Kerapu yang sebelumnya sempat menurunkan alat side scan sonar (SSS) hingga 20 meter ke dasar laut perairan Majene pada 12 Januari 2007.

"Alat kita waktu itu sempat nangkap beacon (suara) dari ULB (underwater locator beacon) itu. Karena ketidakmampuan alat kita sampai turun ke bawah, makanya kita minta Mary Sears untuk menindaklanjuti," kata Komandan KRI Fatahillah Letkol Laut Maman Firmansyah saat itu.

USNS Mary Sears yang dilengkapi Towed Pinker Locator (TPL) seberat 6,9 ton untuk mendeteksi benda-benda di bawah laut pun memastikan koordinat kedua black box yang terpisah 1 mil laut. Titik koordinat pertama dideteksi pada kedalaman 6.000 kaki atau sekitar 2.000 meter. Koordinat kedua dideteksi pada kedalaman 5.800 kaki atau sekitar 1.800 meter.

Pemerintah RI meminta kepada AS agar kapal USNS Mary Sears membantu pengangkatan black box. Saat itu kapal AS USNS Mary Sears yang membantu operasi SAR sudah angkat tangan, tak bisa mengangkat black box. AS tak sanggup karena sudah tidak mampu lagi dari segi pendanaan.

Pemerintah AS menawarkan sejumlah perusahaan yang bisa mengangkat black box itu. Ada beberapa perusahaan yang diajukan oleh AS, yakni dua perusahaan, Phoenix International dan Smith International. Kedua perusahaan ini bergerak di bidang maritim serta memiliki kemampuan dalam upaya evakuasi benda-benda bawah laut.

Indonesia juga menjajaki kerjasama dengan Jepang dan Prancis. Pemerintah saat itu memaksa Adam Air untuk bertanggung jawab mengangkat black box, termasuk menanggung biaya pencarian dan pengangkatan kotak penting yang merekam data penerbangan itu.

Pengangkatan black box akhirnya dimulai lagi pada Juli 2007, 6 bulan setelah pesawat mengalami kecelakaan. KNKT ditunjuk menjadi koordinatornya. Adam Air akhirnya memilih perusahaan Phoenix International dan kapal berbendera Siprus untuk melakukan evakuasi black box.

Menurut Menhub saat itu, Jusman Syafii Djamal, biaya untuk pengangkatan kotak hitam ini diperkirakan 3 juta dolar AS atau Rp 28,2 miliar. Biaya tersebut dikeluarkan untuk mendatangkan kapal khusus berbendera Cyprus dan robot ROV dari Phoenix, AS, yang bisa dioperasikan di bawah laut.

FDR berhasil diangkat pukul 12.29 WIB tanggal 27 Agustus 2007 di kedalaman 2.000 meter. Sedangkan Cockpit Voice Recorder (CVR) ditemukan pukul 10.00 WIB tanggal 28 Agustus di kedalaman 1.900 meter. Jarak antara FDR dengan CVR sekitar 1.400 meter atau mengalami pergeseran 21 meter. FDR ditemukan pada koordinat 3.41 02S dan 118.08 53E. Sedangkan CVR 03.40 22S dan 118.09 16E. Lokasi diangkatnya kotak hitam itu sesuai dengan lokasi yang direkam sonar Mary Sears milik AS. Kedua kotak hitam itu dikirim ke AS untuk dibaca. [2]


    Referensi

  1. ^ Kotak hitam
  2. ^ Rumitnya Mencari Black Box di Kedalaman Laut dari Kasus Adam Air
Plugin referensi dapat didownload disini

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>