mboh

Mahasiswa IPB Ciptakan Nugget Kacang Hijau

Satu inovasi produk pangan sehat berbasis kacang hijau berupa “Nugget” dilahirkan mahasiswa Departemen Ilmu Gizi Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor Annisa Rizkiriani.

“Inovasi produk pangan ini sebagai salah satu upaya menyelesaikan masalah gizi kurang,” kata Annisa Rizkiriani melalui Humas IPB di Bogor, Jawa Barat, seperti dikutip Antara, Senin (6/5/2013).

Ia menjelaskan, inovasi melalui penelitian bertema “Pemanfaatan Kacang Hijau (Vigna radiata L) Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Nugget” itu lahir dengan dukungan empat sejawatnya yakni, Ghaida Yasmin, Suci Apriani, Desy Afriyanti, dan Ezria E Adyas.

Dalam melakukan penelitian itu, mereka mendapat bimbingan dosen pendamping Dr Sri Anna Marliyati

Annisa menjelaskan, mengapa memilih bentuk “Nugget” karena merupakan makanan cepat saji yang cukup disukai oleh masyarakat Indonesia.

“Nugget”, kata dia, biasanya terbuat dari pangan hewani yang harganya cukup mahal, sehingga tidak semua lapisan masyarakat dapat membelinya.

Selain itu, konsumsi pangan hewani yang berlebihan tanpa diimbangi dengan konsumsi pangan nabati dan gaya hidup yang baik akan mendukung berkembangnya penyakit degeneratif.

Penyakit degeneratif adalah istilah kesehatan untuk menjelaskan suatu penyakit yang muncul akibat proses kemunduran fungsi sel tubuh yaitu dari keadaan normal menjadi lebih buruk.

Penyakit yang masuk dalam kelompok ini antara lain diabetes melitus, stroke, jantung koroner, kardiovaskular, obesitas, dislipidemia dan sebagainya.

Karena itu, kata dia, produksi “Nugget” kacang hijau dengan merk “Mung Nugget” itu diharapkan dapat menambah pangan alternatif yang berbahan dasar kacang hijau, dan menciptakan pangan yang bergizi tinggi dengan harga yang terjangkau.

Kacang hijau atau “Vigna radiata L”, katanya, berasal dari famili Leguminoceae atau polong-polongan.

Selama ini, tanaman kacang hijau masih kurang mendapat perhatian petani. Meskipun hasil tanaman ini mempunyai nilai gizi yang tinggi dan harga yang baik dibanding dengan tanaman kacang-kacangan lain.

Ia mengemukakan, kacang hijau memiliki kelebihan yang dapat ditinjau dari segi agronomi maupun ekonomis, seperti lebih tahan kekeringan, serangan hama penyakit sedikit, dapat dipanen pada umur 55-60 hari dan dapat ditanam pada tanah yang kurang subur.

Dengan demikian, kacang hijau merupakan tanaman yang dapat dijadikan berbagai jenis produk makanan.

Proses pembuatan nugget kacang hijau ini dilakukan di Laboratorium Percobaan Makanan, Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB.

Ukuran “Nugget” berdiameter dua centimeter dengan berat 15,2 gram per buahnya. Untuk memenuhi 1/5 kecukupan protein anak usia 4-6 tahun, maka dipenuhi dengan mengonsumsi sebanyak sepuluh buah “Nugget” kacang hijau.

Ia menjelaskan, hasil uji organoleptik menunjukkan konsumen dapat menerima warna, aroma, rasa, dan tekstur “Nugget” kacang hijau.

Peningkatan nilai tambah kacang hijau menjadi “Nugget” kacang hijau, katanya, menjadikan sebagai produk yang menjanjikan serta mampu bersaing dengan produk sejenis lainnya.

Menurut dia, saat ini Indonesia mengalami “double burden problem” (masalah beban ganda), di mana terdapat dua masalah gizi yang bertolak belakang, yaitu masalah gizi lebih dan gizi kurang.

Masalah gizi, kata dia, dapat berakibat pada munculnya penyakit-penyakit degeneratif sehingga dengan inovasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasinya.

Sumber liputan6

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>