mboh

Sinonggi

Sinonggi, makanan khas Suku Tolaki, Kendari adalah makanan yang terbuat dari pati sari sagu. Di Sulawesi Selatan, ia dikenal dengan nama kapurung dan di Kepulauan Maluku disebut papeda. Meski memiliki kemiripan bahan, namun ia berbeda pada cara penyajian. Pada sinonggi, tepung sagu yang sudah dimasak tidak dicampurkan dengan sayur, kuah ikan, sambal (dabu-dabu), atau bumbu lainnya.

Ada sayur bening dan sayur santan. Kuah ikannya, ada ikan putih dan ikan kerapu. Sedangkan kuah dagingnya, ada daging ayam dan daging sapi yang dimasak tawooloho. Tawooloho (artinya) dimasak dengan daun belimbing asam.

Sebelum dimasak, pati sagu direndam di dalam baskom, atau sejenisnya, dengan menggunakan air dingin selama satu malam. Biarkan hingga mengendap. Kemudian air dibuang. Ketika akan diolah menjadi makanan, sagu dicairkan dengan air dingin secukupnya. Lalu, siramkan air panas (sampai mendidih) sedikit demi sedikit sambil sagu diaduk-aduk hingga mengental. Orang bilang, ia menyerupai lem.

Sebaiknya, sebelum sagu diolah menjadi makanan siap saji, sayur, kuah ikan, serta sambal sudah disiapkan. Jadi bisa langsung dimakan pada saat sinonggi masih panas. Sayur dan sambal juga akan lebih nikmat jika ditambah dengan daun kemangi dan jeruk purut. Di Kendari, jeruk purut dikenal dengan nama jeruk Tolaki.

Tapi, sebagai makanan khas, dari mana Sinonggi berasal? Dari sejumlah penelitian yang dilakukan, sebetulnya tak ada yang mengetahui sejak kapan Suku Tolaki mengonsumsi sinonggi. Yang jelas, makanan ini sudah ada sejak ratusan tahun silam. Sama seperti beras.

Ada mitos bahwa pohon sagu tumbuh dengan sendirinya di perkampungan Kuko Hulu Sungai Konaweha, yang kini bernama Latoma Tua. Dalam bahasa Tolaki, ia disebut sowurere, yang artinya suatu kampung yang ditumbuhi ribuan pohon sagu. Lokasinya persis di dekat Tongauna, Kecamatan Ulu Iwoi, Kabupaten Kolaka.

Namun demikian, versi berbeda juga berkembang di masyarakat. Disebutkan bahwa pohon sagu tersebut, yang tumbuh di rawa-rawa, sebetulnya berasal dari Maluku.

Sementara, untuk nama sinonggi sendiri, berasal dari kata posonggi. Posonggi (bahasa Tolaki) merupakan alat yang digunakan untuk mengambil makanan. Semacam sumpit. Ia terbuat dari bambu yang dihaluskan dengan ukuran panjang kurang dari sepuluh sentimeter.

Sumpit inilah yang kemudian digunakan untuk mengambil sinonggi dari tempat penyajian. Dengan cara menggulung, sinonggi dimasukkan ke dalam piring yang telah diisi racikan kuah sayur dan ikan serta bumbu lainnya. Dan dengan sumpit itu pula gulungan sagu kemudian dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam mulut.

Dulu orang tua menyimpan sinonggi dalam dulang yg terbuat dari kayu. Dulang dalam bahasa Tolaki adalah odula. Sayang perubahan waktu, orang tidak lagi menyimpan sinonggi dalam dulang kayu melainkan dalam baskom. Ada rasa yg berbeda menyimpan sinonggi dalam dulang kayu dan baskom kecil yang pasti rasa sinongginya sangat legit.

Seiring perkembangan zaman, sumpit menghilang. Pada saat makan, orang lebih banyak langsung menggunakan tangan atau memakai sendok.

Sinonggi ini, merupakan makanan sekunder Suku Tolaki. Pengganti beras pada masa paceklik.

Pranala Luar
Sinonggi, Makanan Khas Suku Tolaki

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

Anda dapat memakai tag dan atribut HTML ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>