Tag Archives: Penemu WhatsApp

Jan Koum

Jan Koum (Russian: Ян Кум) lahir di sebuah desa di Kiev, Ukraina pada 24 Februari 1976; umur 38 tahun adalah CEO dan pendiri WhatsApp. Bekerja di Yahoo hingga tahun 2007 dan menjadi miliuner saat usia 37 tahun (kekayaannya ditaksir sekitar USD 6,8 miliar [1] ) saat WhatsApp dibeli Facebook dengan harga USD 19 miliar. [2]

Jan Koum. Foto: morgenpost.de

Jan Koum. Foto: morgenpost.de

Masa kecil
Jan Koum adalah anak tunggal menjalani masa kecil yang sangat memprihatinkan di sebuah desa di pinggiran Ukraina. Bersekolah di mana sekolah itu tak punya kamar mandi di dalam. Bayangkan, dengan suhu Ukraina yang mencapai -20 derajat celcius, para murid harus membelah dingin hanya untuk pergi ke kamar mandi. Dan baru mempunyai komputer saat berusia 19 tahun.

Saat umur 16 tahun, bersama ibunya dia hijrah ke Amerika Serikat. Mereka tinggal di sebuah apartemen sempit bantuan pemerintah di Mountain View.

Untuk memenuhi kebutuhan, ibunya bekerja menjadi baby sitter. Sedangkan Koum membantu menyapu di toko kelontong.

Saat SMA, walau suka bikin ulah,Koum suka belajar mandiri. Lewat buku bekas yang dia beli, dia belajar komputer jaringan. Dia bergabung dengan grup hacker dan sempat chating dengan pendiri Napster, Sean Fanning. Lepas SMA, dia masuk ke San Jose University dengan pekerjaan sambilan sebagai pengetes keamanan di Ernst & Young.

Pada 1997, dia ketemu dengan Brian Acton, pegawai Yahoo ke 44. Mereka cocok. Enam bulan kemudian, Koum mendaftar kerja di Yahoo dan diterima sebagai Infrastructure Engineer. Padahal saat itu dia masih kuliah. Baru dua pekan kerja di Yahoo, Koum lalu memutuskan berhenti kuliah. Tiga tahun kemudian, ibunya meninggal dan Koum sebatang kara.

Acton menjadi teman karib dan menampung Koum. Mereka bekerja di Yahoo hingga September 2007. Mereka pergi jalan-jalan ke Amerika Selatan selama setahun. Saat Facebook naik daun, mereka sempat mendaftar jadi pegawai. Hasilnya ditolak.

WhatsApp
Pada 24 Februari 2009 tepat hari ulang tahunnya, mereka mendirikan WhatsApp. Saat itu platform BlackBerry Messenger lagi ngetop. Namun, hanya terbatas pada sesama pengguna perangkat Blackberry. Di sisi lain, iPhone dan ekosistem masih bayi.

Dalam bayangan Koum, WhatsApp lintas perangkat, lintas OS, dan lintas negara. Mereka mengratiskan layanan ini pada tahun pertama. Selanjutnya, mereka memungut fee US$ 1 per tahun. Layanan ini tanpa diselingi iklan. Sebab, iklan jadi momok bagi Koum. Saat pecahnya investasi dotcom pada awal 2000-an, Acton rugi jutaan dolar karena berinvestasi di sektor periklanan.

Aplikasi ini belum ada bentuknya. Koum akhirnya membuat code yang memungkinkan aplikasi ini bisa nomer telepon semua negara di dunia. Awalnya, aplikasi ini sering crash. “Saya bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk memperbaharui ratusan kode telepon di semua daerah,” ujarnya.

Pada Januari 2009, Koum membeli iPhone. Ia kemudian menyadari toko aplikasi App Store akan menjadi bisnis yang besar. Mendadak ia punya ide menarik.

Suatu hari, dia ikut berkumpul di kediaman pria bernama Alex Fishman, di mana tiap minggu, komunitas orang Rusia berkumpul di sana. Koum mengobrol soal ide mentahnya mengenai cikal bakal WhatsApp.

“Jan menunjukkan padaku buku alamat kontaknya di telepon. Dia pikir akan keren jika bisa memiliki status di samping nama individu,” kata Fishman. Status itu akan menunjukkan apakah individu itu sedang sibuk, baterainya hampir habis atau sedang berada dalam gim.

Koum kemudian menemukan nama program tersebut, yaitu WhatsApp yang terdengar familiar seperti kalimat whats up. Seminggu kemudian pada 24 Februari 2009, Koum mendirikan perusahaan WhatsApp Inc di California. Aplikasi itu sejatinya belum dibuat, namun dia nekat jalan terus.

Koum menghabiskan waktunya melakukan kode untuk sync aplikasi dengan nomor ponsel di seluruh dunia. WhatsApp versi awal pun jadi. Namun demikian, aplikasi itu belum sempurna dan sering crash. Saat peluncurannya, hanya ratusan jumlah download, kebanyakan teman teman Fishman dan Koum sendiri.

Hampir Menyerah

Koum hampir saja berhenti di tengah jalan dan berniat mencari pekerjaan saja. Namun Acton mencegahnya, ia melihat potensi besar WhatsApp. “Kamu idiot jika berhenti sekarang. Berikan waktu beberapa bulan lagi,” kata Acton ketika itu.

Koum pun jalan terus meski ragu-ragu. Pertolongan kemudian datang dari Apple yang meluncurkan push notifications di Junia 2009. Fitur ini memungkinkan Koum memodifikasi WhatsApp sehingga setiap kali pengguna mengubah status, otomatis mengabarkan pada setiap orang di jaringan.

“WhatsApp kemudian menjadi instant messaging,” kata Fishman. Jan menyadari ia telah menciptakan WhatsApp sebagai instant messaging baru dari sebelumnya hanya ditujukan sebagai aplikasi untuk update status di kontak

Saat itu, layanan messaging populer yang menjadi pesaing hanya BlackBerry Messenger (BBM), namun kelemahannya terbatas hanya bisa digunakan di BlackBerry. Koum kemudian merilis WhatsApp 2.0 dengan fitur messaging dan jumlah penggunanya naik menjadi 250 ribu.

Potensi WhatsApp membuat Acton semakin tertarik. Ia berhasil menarik pendanaan dari lima orang mantan karyawan Yahoo senilai USD 250 ribu. Acton pun bergabung secara resmi dan bersama Koum, mereka memiliki saham WhatsApp sampai 60%.

WhatsApp pun kemudian dibuat untuk bermacam platform populer termasuk iPhone, Android dan BlackBerry. Mereka memilih metode aplikasi berbayar dan akhirnya mampu menuai pendapatan USD 5000 per bulan di awal tahun 2010.

Pada Desember 2009, WhatsApp untuk iPhone bisa dipakai untuk mengirim foto. Kemudian semenjak itu, pertumbuhan user WhatsApp tak terbendung. Awal tahun 2011, WhatsApp sudah masuk top 20 aplikasi di App Store Amerika Serikat.

Koum sendiri masih terkesan malu malu dan tak mau mempublikasikan WhatsApp secara berlebihan. “Marketing dan media membuat Anda malah tidak fokus pada produk,” kata Koum.


    Referensi

  1. ^ Profil Jan Koum: Pendiri WhatsApp, Anak Desa Imigran Ukraina
  2. ^ Pendiri WhatsApp Tak Punya Komputer hingga Usia 19 Tahun
Plugin referensi dapat didownload disini